STANDAR KECANTIKAN: Relatif yang Diukur
Cantik itu relatif, adalah salah satu omong kosong terbesar di dunia. Bagaimana mungkin, jika cantik itu relatif masih ada sebuah standarisasi yang mengukur sebuah kecantikan. Cantik itu harus putih, cantik itu harus kurus, cantik itu harus tinggi, cantik itu harus glowing, bersih, gigi rapi, hidung mancung, dan banyak keharusan lainnya yang dibebankan pada perempuan. Namun ini tak hanya sekedar keharusan, mesti pas dan sesuai standar, tidak kurang maupun lebih. Yang seolah-olah semua ini ada takarannya dan dapat diukur. Semua harus ada, tak akan jadi cantik jika satu dari sekian banyak standar itu hilang.
Standar kecantikan adalah sebuah patokan yang dijadikan untuk mengukur keelokan seorang perempuan. Tak jelas maksud baik dari diciptakannya standar kecantikan ini. Seolah seluruh perempuan harus serupa. Mengesampingkan keunikan dari setiap perempuan. Menjadikan apa yang mereka miliki tak lagi istimewa. Hanya karena tak sesuai dengan standar kecantikan yang ada.
Ada dua faktor yang mendorong terciptanya standar kecantikan ini. Yang pertama adalah kebudayaan dan suku yang memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda. Kebudayaan ini mendorong perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang ada. Standar kecantikan ini biasanya telah ada sejak lama dan bersifat turun-temurun. Standar ini lahir karena kepercayaan masyarakat setempat. Misalnya, Suku Kayan di Myanmar yang menilai kecantikan seorang perempuan berasal dari lehernya yang panjang. Ada juga Suku Mauritania yang menganggap perempuan cantik itu yang memiliki badan gemuk. Sedangkan di Australia standar kecantikan perempuannya adalah mereka yang mereka memiliki kulit kecoklatan.
Faktor yang kedua yaitu, karena adanya industri produk kecantikan. Dari sinilah standar kecantikan kulit putih, rambut lurus, dan tubuh langsing tinggi semampai berasal. Standar kecantikan ini digunakan sebagai senjata para kapitalis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Mereka mencoba menentukan standar kecantikan lalu mencekoki kaum perempuan dengan produknya. Hal ini dapat dilihat dari iklan produk kecantikan yang selalu menggunakan perempuan berkulit putih sebagai modelnya. Seolah-olah perempuan itu menjadi representatif dari sebuah standar kecantikan. Sedangkan perempuan yang memiliki kulit eksotis dan rambut keriting akan merasa tidak percaya diri dan malu dengan kecantikan alami yang mereka miliki. Kaum kapitalis ini tampaknya lupa atau mungkin tidak tahu, bahwa standar kecantikan kulit putih yang mereka ciptakan ini merupakan warisan buruk kolonialisme Belanda. Sejarah mencatat sebuah stratifikasi sosial dibentuk untuk membedakan kaum berkulit putih dengan para pribumi. Orang Eropa ini ingin memantapkan segala dominasi dalam memperkuat bangsanya sebagai ras superior. Dari sinilah, standar kecantikan, rasisme dan body shaming terbentuk.
Sebagai perempuan kita sering merasa kurang atas diri kita sendiri, bertumpu pada standarisasi sosial yang menuhankan kesempurnaan. Alih-alih berusaha mencintai diri sendiri kita justru berusaha mengganti diri kita sendiri. Doktrin standar kecantikan itu masuk mengambil peran seolah-olah semua perempuan harus seragam. Padahal setiap perempuan memegang cantiknya masing-masing.
Sudah saatnya standar kecantikan ini dihapuskan dari muka bumi. Kesempurnaan tak berujung itu hanya melahirkan krisis kepercayaan diri atau yang belakangan ini disebut sebagai insecurity. Yang tak pernah membawa rasa bersyukur dan selalu merasa tak puas dengan kecantikan yang telah dimilikinya. Hingga harapan para kapitalis akan terwujud dengan penggunaan produk kecantikan yang berlebihan, yang dapat dengan mudah menaikan keuntungan mereka. Sedangkan di luaran sana banyak produk kecantikan yang menjanjikan secara instan, namun memasukan bahan kimia berbahaya seperti merkuri yang akan menimbulkan masalah baru. Meskipun memang mempercantik diri tidak ada salahnya. Tapi jangan sampai kita menghalalkan segala cara hanya agar sesuai dengan standar kecantikan. Dan juga jangan pernah merasa tidak cantik hanya karena kamu jauh dari standar kecantikan yang ada ini.
Bukan kamu yang seharusnya menyesuaikan diri dengan standar kecantikan. Tapi standar kecantikan yang seharusnya menyesuaikan dengan kecantikanmu. Menjadi cantik dalam definisi yang berbeda adalah hak setiap perempuan. Tak ada yang harus seragam di dunia ini. Bayangkan, jika perempuan di seluruh dunia terlihat sangat mirip. Semua akan terasa sangat membosankan dan tak lagi menarik. Standar kecantikan yang tidak memanusiakan perempuan sudah seharusnya ditinggalkan. Menjadi cantik bukan hanya sekedar apa yang melekat pada wajah dan tubuh. Tapi menjadi cantik karena tindakan dan sikapnya. Karena perempuan bukan hanya sekedar objek pemandangan yang mesti cantik, melainkan subjek yang mampu menggerakan dan menjadi dampak bagi sekitarnya. Karena menjadi cantik tak butuh pengakuan dari siapapun.
Komentar
Posting Komentar