Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Tak Usai

T ak Usai Ratap tatap dekap Pandangmu mengalihkan dunia ku Menciprakan angan yang tak kunjung usai Daku terjerambap dalam tatap yang menjerembab Sisakan bait-baik yang mengudara Berpegang pada keputusan katamu Daku harus lakukan Menantang balik asa Agar aku tak lagi merasa Harusnya aku diam Diam membisu hingga membeku Agar segala ucap tak lagi meratap Agar dengung kembali menggema Aku tergelitik oleh aksara yang kau goreskan Jangan jadikan aku bagian dari aksaramu Aku tak pantas Aku tak berhak Aku tak butuh itu Aku butuh kamu (titik.)

Tanpa Izin

Dari awal aku memang tak benar Menyukai tanpa izin Mencintaimu tanpa izin Memandangmu tanpa izin Aku salah untuk semua itu Aku hanya bagian dari luka Yangsajakmu ptakan sendiri Jangan salahkan rasa ini Salahkan saja aku Kenapa begitu menyukaimu amata dalam Aku harusnya sadar Namun nyatanya aku tak pernah sadar :(

Dinginmu Membeku

Nyata tak lagi semu Dibawah rintik yang menghujani desaku hari ini Kutuliskan sebuah kisah tentang (kita) Dua hari pasca kejadian itu Semumu sekarang nyata Nyata nyata aku tau kamu sudah bukan lagi sendiri Dibawah atap rumahku Kugantungkan sebuah pesan pada diriku Jangan berharap terus dan terus Sadarlah aku ini bukan siapa siapanya Dan akan tetap menjadi bukan siapa siapanya Pada gelapnya malam ini Aku curahkan segala yang kuanggap fana Kamu bukan lagi untuku Aku tak seharusnya menjadi milikmu Berbahagialah dengannya Aku tak kan menuntut banyak Senyummu tak harus lagi untukku Tawamu tak harus lagi karenaku Tangismu tak harus lagi tentangku Aku bahagia melihat kau bahagia dengannya Aku tak terluka tak bisa dapatkan kau sepenuhnya Tapi itu hanya sebuah semu Nyatanya aku terluka Nyatanya aku tersakiti Nyatanya aku tak bahagia Harusnya aku yang ada disampingmu Bersamamu Denganmu Selalu kamu Aku menginginkanmu Namun aku sadar aku tak berhak Jangankan untuk bersanding senganmu Cemburu saja...

Dinginmu

Pasca hujan turun, Dingin yang menyelimuti pertemuan kita hari ini. Untukmu yang pernah meyakinkanku Sudah lama kita tak jumpa Yang katanya terlihat dekat namun sangat jauh pada kenyataan Sudah lama kita tak berbincang Sudah lama pula tak bertegur sapa Kamu dingin hari ini sangat dingin Membuatku ragu untuk menyapamu Bukannya gengsi atau tak peduli Namun raut wajahmu saat bertemu diriku Selalu saja menyimpan tanda Tanya besar Aku tak pernah menampik jika aku pernah mengecewakanmu Membuatku harus berpikir seribu Kali untuk menyapamu Namun kamu berlalu juga tanpa sapa aku hanya sanggup menundukan kepala Menyimpan senyum sapa yang tak kau inginkan Salahku memang hari itu aku tak lagi megang kepercayaanmu Menyimpan keyakinanmu pada jiwaku Karena realita mengatakan aku tak sanggup Aku sadar bahwa menyimpan sapa dan senyum tidak pernah dibenarkan Aku terusik oleh dinginmu Berkali ku tak ingin memikirkanmu Berkali pula tuhan hadirkan sketsa wajahmu di pikirku Berkali aku menghindar untuk bert...

Jalanku

Lucunya hari ini... Kala sebuah keraguan dan keyakinan dipertanyakan? Untuk kali ini keyakinan adalah yang kupilih Untuk pertama kali dengan lantang saya katakan TIDAK! Sempat terbesit sebuah keyakinan Tapi tak ada yang menyakinkan Bukan tentang siapa yang akan meyakinkan Tapi tentang apa yang meyakinkan? Bahkan alasan untuk tetap bertahan sangat kecil Lantas mengapa dipertanyakan kembali? Sebuah intuisi yang tak selayaknya jadi amunisi Terima kasih, telah mengizinkan saya untuk memilih jalan saya Saya pergi, saya yakin ada tidaknya saya tidak akan berpengaruh banyak

Andai

Dan hari ini... Andai sama ada dirimu disampingku Mendekapku dalam dinginnya rintih hujan Menjaga agar angin tak membelai tubuhku Dan kita mulai bercerita tentang masalalu yang masih melekat diingatan Namun sayangnya... Itu semua hanya sebuah pengandaian yg kekal yg hadir disetiap bait hujan yang dikirimkan langit pada bumi Andai saja kamu tau Apa yang saya rasakan Dingin, Hampa, Tragis Aku membencimu Membenci ketidakhadiranmu Benci Benci Benci Benci aku pada diriku sendiri Hamba tuhan yang terlalu banyak berharap oleh : Inge Bondan Pratiwi